Kisah Sumur Raumah

0
Posted in Travel By AmyFlora

Begitu banyak tempat dan bangunan di Arab Saudi yang menjadi saksi sejarah kehidupan masyarakat pada masa Nabi dan Rasul. Salah satu di antara nya adalah sebuah sumur yang dinama kan Sumur Raumah. Sumur Raumah merupakan salah satu peninggalan sejarah masa Utsman bin Affan atas kedermawannya, yang saat diatasnya telah dibangunan hotel atas nama Sayyidina Utsman. Sumur tersebut tepatnya berada di sebelah Masjid Qiblatain dan pada saat itu pemiliknya adalah seorang Yahudi.

Pada masa itu Nabi Muhammad SAW dan kaum muhajirin tengah berada di kota Madinah dan dalam kondisi paceklik sulit mendapatkan air bersih, baik untuk minum ataupun untuk berwudhu. Kaum muhajirin telah terbiasa untuk menggunakan air zam-zam ketika di Mekkah yang tidak pernah ada keringnya. Sedangkan air yang ada saat itu hanyalah air dari sumur tersebut yang diperjual belikan oleh pemilik sumur. Mereka harus membeli dan antri untuk mendapatkan air dari sumur raumah.

Kisah Sumur Raumah

Kisah Sumur Raumah

Keberadaan Sumur Raumah memang tidak menjadi sorotan banyak orang layak nya peninggalan-peninggalan yang bersejarah lainnya, seperti Masjid Al-Haram, Masjid Nabawi, atau kompleks pemakaman Junnat Al-Baqi. Namun ternyata, di balik sumur ini tersimpan kisah menarik seputar kedermawanan sahabat Nabi Muhammad SAW, Khaliffah Utsman bin Affan.

Pada masa itu Nabi Muhammad SAW dan kaum muhajirin tengah berada di kota Madinah dan dalam kondisi paceklik sulit mendapatkan air bersih, baik untuk minum ataupun untuk berwudhu. Kaum muhajirin telah terbiasa untuk menggunakan air zam-zam ketika di Mekkah yang tidak pernah ada keringnya. Sedangkan air yang ada saat itu hanyalah air dari sumur tersebut yang diperjual belikan oleh pemilik sumur. Mereka harus membeli dan antri untuk mendapatkan air dari sumur raumah. Ikuti Program Umroh Murah Bulan Januari.

Melihat kondisi ini membuat Nabi Muhammad SAW prihatin terhadap umatnya, kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda: “Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan harta nya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat maka akan mendapat surga-Nya Allah taala.” (HadistRiwayat. Muslim)

Mendengar hal itu, seorang sahabat yang dermawan berusaha untuk membebaskan sumur tersebut dari pemilik Yahudi, sahabat tersebut adalah Utsman bin Affan yang sangat dermawan. Beliau mendatangi rumah pemilik sumur dan menawar nya dengan harga yang tinggi. Meskipun begitu sang pemilik tidak ingin menjual sumur tersebut dengan berapapun tawaran tertinggi dari Utsman bin Affan. Pemilik berkata, “Seandai nya sumur ini saya jual kepada kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari,” itulah alasan yang di ungkapkan nya.

Mendengar jawaban tersebut, Utsman tetap berteguh hati untuk mendapatkan sumur raumah dan terus mencoba menawarnya lagi. Sampai pada saatnya sahabat Utsman RA menawarkan jalan keluar kepada pemilik sumur dengan cara membeli setengah dari sumur tersebut. Mendengar tawaran itu pemilik Yahudi langsung menerimanya dengan anggapan bahwa dirinya akan mendapat untung dua kali lipat, mendapatkan hasil dari penjualan setengah sumur kepada Utsman dan penghasilan tetapnya dari orang-orang yang membeli air tidak akan pernah putus.

Keputusan tersebut dilakukan dengan aturan kepemilikan sumur secara bergantian, satu hari dimiliki Utsman dan satu hari dimiliki Yahudi. Ketika aturan tersebut dilakukan, Utsman meminta kepada seluruh penduduk Madinah mengambil air secara gratis dari sumur dan mengambilnya dengan ukuran banyak untuk persediaan selama dua hari, karena keesokan harinya sumur tersebut berganti pemilik dan untuk mendapatkan air harus dengan cara membelinya.

Dan benar saja pada saat dimiliki Yahudi, sumur tersebut sepi tanpa pembeli karena penduduk masih memiliki cadangan air. Melihat kondisi ini, sang Yahudi pemilik sumur mendatangi Utsman dan memintanya untuk membeli separuh lagi sumur miliknya sehingga sumur tersebut akan menjadi milik Utsman sepenuhnya. Akhirnya dibelilah separuh sumur tersebut dengan harga yang sama pada saat pembelian yang pertama yaitu 20.000 dirham.

Setelah itu sumur Raumah di wakafkan oleh Utsman bin Affan untuk kepentingan para penduduk. Siapa saja bisa mengambil air dari sumur raumah termasuk pemilik lama, orang Yahudi.

Dahulu, masjid ini dimiliki oleh seorang Yahudi. Dikisahkan, pada masa itu Rasulullah dan kaum Muhajirin tengah berada di kota Madinah. Kala itu Madinah sedang dalam kondisi paceklik. Masyarakatnya sulit mendapatkan air bersih, baik untuk minum maupun berwudhu.

Keadaaan ini tentu saja sangat menyulitkan kaum Muhajirin. Lantaran mereka terbiasa hidup dengan air zam-zam melimpah di Kota Mekah.

Satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan saat itu adalah sumur Raumah. Kondisi ini dimanfaatkan oleh si pemiliki sumur untuk memperjualbelikan air miliknya. Masyarakat Madinah diwajibkan membeli dan antre untuk mendapatkan air dari sumur Raumah.

Mendengar hal itu, sahabat nabi yang dermawan, Khalifah Utsman bin Affan berusaha membebaskan sumur tersebut dari pemiliknya. Beliau mendatangi rumah pemilik sumur dan menawarnya dengan harga yang tinggi.

Namun sang pemilik tak ingin menjual sumurnya. Utsman tetap berteguh hati dan kembali menawar sumur itu dengan harga yang lebih tinggi.

Hingga akhirnya, Utsman menawarkan jalan keluar kepada pemilik sumur dengan cara membeli setengah dari sumur itu. Mendengar tawaran itu pemilik Yahudi langsung menerimanya dengan anggapan dirinya akan mendapat untung dua kali lipat.

Kesepakatan tersebut dilakukan dengan aturan kepemilikan sumur secara bergantian. Satu hari dimiliki Utsman dan satu hari dimiliki Yahudi.

Saat tiba gilirannya, Utsman meminta kepada seluruh penduduk Madinah untuk mengambil air secara gratis dari sumur dan mengambilnya dengan ukuran banyak agar cukup untuk persediaan dua hari. Karena keesokan harinya sumur tersebut akan berganti pemilik.

Esok harinya, sumur tersebut sepi tanpa pembeli karena penduduk masih memiliki cadangan air. Akibat kondisi ini, si Yahudi pemilik sumur mendatangi Utsman dan memintanya untuk membeli separuh lagi sumur miliknya. Akhirnya dibelilah separuh sumur tersebut dengan harga yang sama pada saat pembelian pertama, yakni 20.000 dirham.

Sumur Raumah pun menjadi milik Khalifah Utsman sepenuhnya. Setelah itu beliau mewakafkan Sumur Raumah untuk kepentingan para penduduk. Siapapun diperbolehkan mengambil air dari sumur itu termasuk pemilik lamanya, si orang Yahudi.

Seiring berjalannya waktu, area di sekitar sumur banyak ditumbuhi pohon kurma yang terus bertambah jumlahnya. Saat ini diperkirakan ada sekitar 1.550 pohon kurma di sana.

Pohon-pohon kurma itu kini dikelola oleh Departemen Pertanian Arab Saudi. Kurma-kurma yang dihasilkan dijual oleh Departemen Pertanian ke pasar-pasar dan setengah hasil penjualan kurma diberikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin.

Uniknya, setengah pendapatan lagi disimpan pemerintah Saudi pada salah satu bank dengan rekening atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departemen Pertanian.

Kabarnya, uang simpanan di rekening tersebut telah digunakan untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel bintang  5 yang cukup besar di salah satu kawasan strategis dekat Masjid Nabawi.

Seiring dengan berjalan nya waktu, di sekitar sumur tumbuh pohon kurma yang terus bertambah sampai mencapai 1.550 saat ini. Kurma-kurma tersebut di jual oleh Departemen Pertanian Saudi ke pasar-pasar dan setengah hasil penjualan kurma di berikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedangkan keuntungan setengahnya lagi di tabung pada salah satu bank dengan rekening atas nama Utsman bin Affan. Tidak banyak umat muslim mengetahui tentang sejarah sumur ini.

You might also likeclose