Beginilah Cara Pengukuran Spirometri

0
Posted in Kesehatan By AmyFlora

Untuk mengetahui apakah seorang pasien mengalami penyakit atau tidak, dokter biasanya akan melakukan beberapa tes pemeriksaan untuk memastikannya. Namun sebelum dilakukan pemeriksaan dokter akan terlebih dahulu menanyakan beberapa hal seputar gejala yang dirasakan, seperti apakah pasien sering mengalami sesak nafas, sulit , nyeri dada, mengi, atau bibir dan kuku yang berubah menjadi kebiruan.

Beginilah Cara Pengukuran Spirometri

Bila ternyata jawabannya positif, maka dokter akan bertanya lagi tentang kapan gejala tersebut sering muncul, apakah pada waktu malam atau pagi hari, saat merokok, berolahraga, stress, tertawa, saat didekat binatang yang berbulu atau malah tidak bisa diprediksi. Kemudian dokter juga akan bertanya apakah ada anggota keluarga lain yang mempunyai riwayat penyakit asma atau alergi.

Apabila semua keterangan yang diterima mengarah pada penyakit asma, selanjutnya dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk lebih memastikannya lagi. Dan tes atau pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah dengan melakukan pengukuran spirometri.

Cara pengukuran spirometri sendiri dilakukan dengan cara meminta pasien menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secepat mungkin ke sebuah alat bernama spirometer. Spirometer merupakan salah satu alat yang berfungsi untuk mengukur jumlah udara yang masuk dan keluar paru-paru. Yang sekarang hampir di semua toko dan distributor alat kesehatan sudah banyak yang jual spirometer.

Tujuan dari tes spirometri ini adalah untuk mengukur kinerja paru-paru berdasarkan volume dan jumlah total udara yang mampu dihembuskan oleh pasien dalam waktu satu detik. Adanya gangguan pada saluran pernafasan yang mengindikasikan penyakit asma bisa dokter ketahui melalui perbandingan data hasil pemeriksaan dengan data orang seumuran pasien yang dianggap sehat.

Selain itu juga bisa dengan membandingkan hasil pemeriksaan spirometri awal sebelum diberi pengobatan dengan hasil pemeriksaan spirometri setelah pasien diberi obat inhaler. Bila setelah diberi obat inhaler ternyata hasilnya bagus, bisa dipastikan bahwa pasien menderita penyakit asma. Hasil pemeriksaan yang akurat juga sangat dipengaruhi oleh tata cara pengukuran spirometri yang benar dan sesuai prosedur.

Tes lain yang bisa dilakukan untuk mendeteksi penyakit asma adalah dengan tes kadar arus ekspirasi puncak. Dalam tes ini akan menggunakan alat bernama peak flow meter (PFM). Kecepatan udara dari paru-paru yang bisa dihembuskan oleh pasien dalam sekali nafas akan diukur untuk memperoleh data tingkat arus ekspirasi puncak (PEFR). Dokter juga biasanya akan menyarankan pasien untuk memiliki PFM sendiri dirumah supaya bisa mencatat data PEFR-nya setiap hari. Semua gejala yang timbul juga akan diminta untuk dicatat sehingga nantinya dari semua itu dokter bisa tahu kapan penyakit asma yang dialami bisa memburuk.

Jika pasien merasa gangguan asma sering muncuk saat bekerja, besar kemungkinan karena kondisi lingkungan yang terdapat zat-zat pemicu asma. Disarankan untuk segera menghubungi bagian layanan kesehatan kerja dan meminta solusi penanganannya.